Malam di Kota Palembang: Sebuah Kisah tentang Duren dan Kebersamaan Oleh: Hairul

Malam di Kota Palembang: Sebuah Kisah tentang Duren dan Kebersamaan
Oleh: Hairul

Malam itu, Selasa, 24 Desember 2024, Palembang menyambut kami dengan angin lembut yang menyusup di sela-sela keramaian kota. Bersama Ketua Umum DPP PJS, Mahmud Marhaba, kami berjalan menyusuri malam, ditemani cahaya lampu jalan yang berkilauan. Di antara langkah-langkah kecil, ada cerita yang tercipta, sebuah perjalanan yang lebih dari sekadar pertemuan.

Rombongan kami malam itu terdiri dari Sekretaris DPD PJS Noto, Ketua DPC PALI Edi Saputra, dan dua rekan lainnya, Alwin Trawita Aksima dan Jemi Karter. Kami menuju sebuah tempat yang menjadi ikon kuliner malam Palembang—Pasar Putong. Bukan untuk mencari gemerlap kota, tetapi untuk menikmati sesuatu yang sederhana namun istimewa: durian khas Palembang.

Aroma manis durian menyambut kami begitu kami tiba. Tumpukan buah berduri itu seolah menjadi tanda selamat datang yang hangat. Dalam kesederhanaannya, pasar ini memiliki cerita yang tak kalah megah. Kami duduk melingkar di sebuah meja kayu sederhana, membuka durian demi durian dengan semangat yang hanya malam seperti ini yang mampu menghadirkannya.

Pak Mahmud tersenyum sambil mengupas durian. “Durian ini seperti hidup, Hairul. Tidak semua orang langsung suka, tapi mereka yang sabar mencicipinya, akan menemukan kenikmatan yang tak tergantikan,” katanya. Kata-kata itu, diiringi tawa kecil dari rombongan, menjadi renungan tersendiri bagi saya.

Malam berjalan pelan. Di tengah rasa manis durian yang melekat di lidah, ada kehangatan yang tak bisa dijelaskan. Kebersamaan ini lebih dari sekadar perjalanan; ia adalah momen di mana rasa hormat dan persahabatan melebur menjadi satu.

Kami meninggalkan Pasar Putong dengan hati yang penuh. Di langit, bintang-bintang bersinar lembut, seolah ikut tersenyum melihat perjalanan malam kami. Palembang, dengan segala kehangatannya, mengajarkan kami arti kebersamaan yang sederhana namun penuh makna. Dan malam itu, durian menjadi saksi bisu sebuah cerita yang akan kami kenang selamanya.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

DILARANG COPY