Hingar-bingar malam ini seperti orkestra tanpa komposer. Suara kendaraan roda dua dan roda empat saling bersahutan, memenuhi setiap sudut jalan. Di atas motor Beat kesayangan, aku melaju perlahan, meninggalkan rumah dengan tujuan yang entah mengapa membawa langkahku ke Candi Bumi Ayu.
Aku berhenti di sana, sejenak menenangkan diri dari kebisingan dunia. Tempat itu seolah menawarkan kesunyian yang menuntunku pada renungan. Di bawah langit malam yang kelam, aku mendongak. Pandanganku terhenti di batas langit, sejauh mata mampu menjangkau.
Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan pada diriku sendiri, tetapi anehnya, aku bahkan tidak tahu apa yang ingin aku tanyakan. Pikiran berkelindan, seperti benang kusut yang sulit diurai. Namun, di tengah kebingungan itu, aku tetap menatap langit.
Malam ini, di ambang pergantian tahun, aku membisikkan harapan kecil pada angin yang berhembus pelan. Aku berharap, di tahun yang baru ini, aku bisa menjadi versi diriku yang lebih baik. Lebih bijak, lebih kuat, dan lebih berarti.
Langit yang luas itu seperti cermin besar, memantulkan segala keraguan dan keinginan yang ada di hatiku. Di bawah gemintang yang berpendar, aku berjanji pada diriku sendiri untuk terus melangkah, seberat apa pun jalan yang harus kuhadapi.
Semoga tahun ini menjadi awal dari perjalanan yang lebih indah. Untukku, dan mungkin juga untuk mereka yang sama-sama mencari makna dalam sunyi malam ini.
Hairul













Leave a Reply